Minggu, 27 Mei 2012

perilaku terpuji


PERILAKU TERPUJI

1.      Wara’
Perkataan wara’ berasal dari bahasa Arab yang artinya saleh dan menjauhkan diri dari dosa menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata warak berarti patuh dan taat kepada Alloh. Menrut istilah tsawuf, warak berarti menjauhi atau meninggalkan sesuatu yang didalamnya terdapat unsur syubhat (diragukan  halal dan haramnya). Sebagaimana meninggalkan yang haram.
Seorang muslim/muslimat yang bersifat wara’ selama hidupnya akan meninggalkan hal-hal yang jelas haramnya, juga akan meninggalkan hal-hal yang syubhat.
Perhatikan sabda Rosul SAW berikut ini :

Artinya : barang siapa membeli pakaian dengan sepuluh dirham, dan di dalamnya ada satu dirham yang haram, Alloh tidak akan menerima salatnya, selama sebagian kain itu ada padanya. (H.R Ahmad dan Musanad).

2.      Sabar
Menurut sebagian ulama yang dimaksudkan dengan sabar ialah tabah. Tabah artinya menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum islam, baik dalam kelapangan ataupun dalam kesulitan / cobaan, serta mampu mengendalikan nafsu yang dapat mengguncangkan iman.
Banyak ayat Al-Quran maupun hadist yang menjelaskan tentang sabar, antara lain mengenai suruhan untuk bersabar. Allah berfirman dalam Al-Quran :

Artinya : “maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rosul-rosul” ( QS. Al-Ahqaf, 46:35).
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang beriman itu tentu akan memiliki sifat sabar. Rasululloh SAW bersabda :


Artinya :”kedudukan orang yang sabar dalam iman, sebagaimana kedudukan roh dalam jasad” (AL-Hadist).
Para ahli filsafat islam berpendapat bahwa sabar itu harus ditetapkan dalam lima hal yaitu:

1.      Sabar dalam beribadah
2.      Sabar dalam mengalami musibah
3.      Sabar dalam kehidupan dunia
4.      Sabar dalam maksiat
5.      Sabar dalam perjuangan.

Keutamaan dan hikmah dari bersikap dan berprilaku sabar banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadist. Ayat Al-Quran yang menjelaskan keutamaan sabari misalnya: QS. Al-Baqarah, 2:155-167 dan QS. An-Nahl, 16:96. Dalam hadist, Nabi Muhammad SAW menjelaskan keutamaan sabar:

Artinya :”sesungguhnya Allah ta’ala berfirman (dalam hadist qudsi) “bila aku mencoba hamba-Ku dengan hilangnya penglihatan, lalu dia sabar, maka Aku  menggantinya dengan surga” (Al-Hadist).

3.      Tawakal kepada Alloh SWT
Menurut Al-Ghazali (450-202 H), kata tawakal berasal dari kata wikalah, yang artinya menyerahkan atau mewakilkan. Tawakal dalam agama islam adalah mewakilkan atau menyerahkan  diri kepada Allah SWT setelah berusaha sekuat tenaga, sesuai dengan kemampuannya sebagai manusia.
Ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang tawakal antara lain : Q.S At-Taubah, 9 : 51 dan Q.S At-Talaq, 65 : 3.
Hadist yang menjelaskan tawakal antara lain sabda Rasulullah SAW.

Artinya : “kalau kamu berserah diri (tawakal) sepenuhnya kepada Allaah, maka kamu akan diberi rezeki oleh Allah, seperti burung-burung yang diberikan kepada burung-burung, yang pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar dan kembali di waktu sore hari dengan perut yang kenyang” (H.R At-Tirmizi).

4.      Qanaah
Qanaah adalah suatu sikap pribadi yang menerima dengan cukup puas dan senang hati atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepada dirinya, karena merasa bahwa itulah yang telah menjadi bagiannya, serta manjauhkan diri dari sikap tidak puas dan selalu merasa kekurangan. Kata qanaah dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti rela menerima apa yangi diberikan kepadanya oleh orang tua, atasan, ataupun oleh Allah SWT.
Allah SWT berfirman :

Artinya : “dan tiada satu binatang melatapun yang dibumi melainkan Allah-lah yang memberikan rizkinya” (Q.S Hud, 11 : 6)
Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : “bersikaplah kamu dengan qana’ah, sesungguhnya qana’ah itu kekayaan yang tidak pernah habis.” (Hadist).

Setiap muslim/muslimat yang berjiwa qanaah memiliki sikap dan perilaku sebagai berikut :

1.      Menerima dengan rela dan senang hati apa yang ada padanyas, karena menyadari bahwa hal itu merupakan ketentuan dari Allah SWT.
2.      Berusaha dan memohon kepada Allah SWT tambahan rizki yang halal dan pantas, karena manyadari bahwa qanaah hanya berlaku pada jiwa, sedangkan berusaha dan berdo’a wajib terus-menerus dilakukan selama hayat dikandung badan.
3.      Menerima dengan sabar segala ketentuan Allah SWT, khususnya tatkala berada dalam situasi yang tidak menyenangkan.
4.      Tidak tertarik dengan kemewahan dunia jika akan menyesatkan.
5.      Senantiasa bertawakal kepada Allah SWT.

Fungsi qana’ah dalam kehidupan pribadi adalah sebagai stabilisator dan dinamisator. Sebagai stabilitator karena qana’ah itu dapat menumbuhkan sifat terpuji, seperti: bersyukur, bersabar, berinfak, tawakal, dan tawaduk. Serta dapat membentengi diri dari sifat-sifat tercela, seperti : iri hati, dengki, sombong, tamak dan berputus asa dalam hidup. Itu semua menyebabkan sorang berjiwa stabil, tenang, tentram, dan berserah pada Allah SWT. Orang yang qana’ah menyadari bahwa hakikat kekayaan dan kemiskinan itu terletak pada hati, bukan pada harta yang melimpah ruah. Banyak orang kaya-raya, tetapi hatinya diliputi keresahan, karena keserakahan dan ketamakannya.
Rasulullah SAW bersabda :
  
Artinya : qana’ah itu adalah harta benda yang tidak pernah akan hilang dan simpanan yang tidak akan lenyap. (H.R At-Tabrani).
Fungsi qana’ah sebagai dinamisator, karena sifat qana’ah dapat mendorong seseorang untuk selalu berdo’a dan berkerja keras agar kualitas hidupnya terus meningkat.

5.      Adil
Dalam kamus bahasa Indonesia, kata adil berasal dari bahasa Arab yang berari  tidak berat sebelah, jujur, tidak berpihak, atau propesional. Pengertian adil menurut istilah ilmu akhlak dapat dikemukakan sebagai berikut :

·         Meletakan sesuatau pada tempatnya
·         Menerima hak tanpa lebih dan memberikan hak orang lain tanpa kurang
·         Menerima hak setiap yang berhk secara lengkap, tidak melebihi dan tidak mengurangi, anatara sesama yang berhak dalam keadaan yang sama, dan menghukum orang jahat atau melanggar hukum sesuai deangan kesalahan dan pelanggarannya.

Perintah untuk bersikap dan berprilaku adil telah difirmankan Allah SWT sebagai berikut :
 
Artinya : “sesungguhnya Allah SWT menyuruh (kamu) berprilaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang perbuatan keji, kemungakaran dan permusuhan (Q.S An-Nahl, 16 : 90).

Perintah Allah kepada orang-orang beriman agar betul-betul menegakan keadilan tercantum dalam Q.S An-Nisa, 4 : 135).
Dalam kitab “lubabul-khiyar” karangan Mustafa Ghulayaeni dikemukakan :
 
Artinya : “berprilaku adil walau terhadap dirimu sendiri.”

Orang yang memiliki sifat adil akan menyadari bahwa setiap orang harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, setiap oarang tidak akan menanggung perbuatan dosa orang lain, dan setiap orang akan memperoleh hal yang sesuai dengan apa yang telah disesuaikan. Allah SWT berfirman yang artinya “(yaitu) bahwasanya, satu (jiwa) pemikul tidak akan memikul dosa (jiwa) orang lain. Dan sesungguhnya manusia tidak akan mendapat melainkan ( menurut) apa yang telah disesuaikannya, dan bahwasannya uasahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya denagan balasan yang paling sempurna. Dan bahwasannya Tuhan mu lah kesudah segala sesuatu.” (Q.S An-Najm, 53 : 38-42).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar